Kepemimpinan yang Melayani

Menjadi pemimpin itu ibarat menjadi sentral atau pusat. Semua mata memandang, semua perhatian tertuju padanya.

Pin It

Ist / Ilustrasi Foto

Saya sudah sering menulis tentang kepemimpinan, gaya kepemimpinan, dan lain sebagainya. Banyak analis juga tak henti bicara tentang kepemimpinan. Seminar atau pelatihan bermunculan dengan tema kepemimpinan. Tiap tahun, lembaga-lembaga pendidikan menjual janji akan mencetak pemimpin-pemimpin bangsa yang merupakan lulusan lembaga pendidikan itu. Pikir-pikir, kepemimpinan boleh jadi adalah isu yang lumayan seksi. Pada era Demokrasi seperti sekarang ini, orang suka bicara tentang pemimpin nomor satu negeri ini yaitu Pak Joko “Jokowi” Widodo. Orang juga tentu gemar bicara tentang pemimpin berikutnya, yaitu Pak Jusuf Kalla (JK). Menjadi pemimpin itu ibarat menjadi sentral atau pusat. Semua mata memandang, semua perhatian tertuju padanya. Seorang teman saya pernah mengirimkan pesan lewat telepon pintar. Begini bunyinya: “Perbedaan seorang bos dan pemimpin: Seorang bos mempekerjakan bawahannya; tetapi seorang pemimpin mengilhami mereka. Seorang bos mengandalkan kekuasaannya; tetapi seorang pemimpin mengandalkan kemauan baiknya. Seorang bos menimbulkan ketakutan; tetapi seorang pemimpin memancarkan kasih. Seorang bos mengatakan aku; tetapi seorang pemimpin mengatakan kita. Seorang bos menunjuk siapa yang bersalah; tetapi seorang pemimpin menunjuk apa yang salah. Seorang bos tahu bagaimana sesuatu dikerjakan; tetapi seorang pemimpin tahu bagaimana mengerjakannya. Seorang bos menuntut rasa hormat; tetapi seorang pemimpin membangkitkan rasa hormat. Seorang bos berkata PERGI!; tetapi seorang pemimpin berkata MARI KITA PERGI!” Konon sebagian besar teks tersebut berasal dari kutipan-kutipan pemikiran Harry Gordon Selfridge, pendiri department store di London yang berkembang menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Ia berpendapat, ada perbedaan mendasar antara seorang leader dan bos. Orang sering gagal untuk menjadi pemimpin karena mereka bukan berlaku sebagai pemimpin, melainkan sebagai bos. Memang dapat dikatakan pemimpin memiliki kekuasaan dan kewenangan. Selain berwenang mengatur ini dan itu, pemimpin berkuasa mengambil keputusan-keputusan strategis, yang berdampak bagi orang lain di luar dirinya atau orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin memiliki otoritas yang sengaja dilekatkan padanya, dengan tujuan sang pemimpin dapat amanah menjalankan tugasnya. Untuk apa? Dalam konteks pemerintahan Indonesia, menurut hemat saya, tentu harapan terbesar bagi para pemimpin-pemimpin negeri ini, baik di eksekutif, legislatif, maupun yudikatif, adalah agar mereka dapat melayani rakyat Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Itulah amanah dari konsep kekuasaan yang terpenting dalam relasi pemimpin dan rakyat. Dalam kenyataannya, banyak pemimpin yang tidak berpihak pada rakyat yang dipimpinnya. Mereka hanya mencari keuntungan untuk diri sendiri. Pemimpin-pemimpin sejenis ini hanya bisa mengkritik orang lain, menyalahkan orang lain, dan mudah cemas ketika muncul gagasan-gagasan pembaharuan yang muncul di kalangan rakyat atau orang yang dipimpinnya. Pemimpin seperti ini hanya suka duduk di panggung-panggung membuka acara penting, dan setelah itu bersembunyi mencari kenyamanannya sendiri. Mereka sangat pragmatis dan mengedepankan kepentingan diri sendiri. Pemimpin bergaya “bos” tidak akan mau berusaha bertemu dan mendengar masalah-masalah yang dihadapi orang-orang yang dipimpinnya. Mereka hanya ingin dipuji sebagai yang paling benar (sehingga orang lain lah yang pasti salah) dan paling hebat. Menggelikan! Bicara tentang pemimpin, saya jadi ingat dulu di bangku SMA Santa Ursula, di samping perkara kepemimpinan, hal lain yang selalu saya dengar adalah “melayani”. Semboyan Santa Ursula adalah SERVIAM, yang artinya: Saya Mengabdi atau Saya Melayani. Sebagai semboyan, jelas saja semangat melayani terus konsisten ditanamkan kepada saya dan teman-teman, sebagai murid-murid sekolah Santa Ursula. Melayani tidak memandang status apakah seseorang itu berkedudukan tinggi atau rendah, memiliki harta melimpah atau tidak, dan sebagainya. Dalam perenungan saya, melayani diawali kerendahan hati dan ketulusan untuk berbagi. Rendah hati dan tulus adalah karakter yang diperlukan dalam melayani, sekaligus dalam memimpin. Sesungguhnya, kepemimpinan adalah hal tentang melayani, bukan tentang memerintah atau memamerkan kekuasaan. Karena itu, menurut saya akan baik jika kita sejenak merenungkan, bisakah seorang pemimpin melayani? Atau justru sesungguhnya, seorang pemimpin justru seorang yang melayani? Saya pikir seharusnya ya! (*) Penulis adalah aktivis perempuan, hukum, dan HAM; anggota dewan redaksi Sinar Harapan; follow: @ValentSagala.

Sumber : Sinar Harapan