81 Tahun GKP Meniti Pelayanan

Gereja adalah persekutuan yang diutus Tuhan untuk berkarya di tengah dunia.

Pin It

Ist / Foto

Makna dan panggilan gereja:
1.    Gereja tidak berada dalam ruang steril dan hampa. Gereja adalah persekutuan yang diutus Tuhan untuk berkarya di tengah dunia. Gereja adalah persekutuan dinamis, di tengah jalan, yang belum tiba di terminal terakhir. Oleh sebab itu, gereja ada bukan untuk dirinya sendiri, ia ada untuk orang lain. Gereja bukan persekutuan yang eksklusif dan introver, melainkan komunitas yang terarah keluar dan tidak sibuk dengan dirinya sendiri.
2.    Gereja di semua tempat dan sepanjang zaman terpanggil untuk:
a.    Menampakkan keesaan mereka seperti keesaan tubuh Kristus dengan rupa-rupa karunia, tetapi satu roh yang selalu membarui (Rm 12:1–8; 1 Kor 12:4).
b.    Memberitakan Injil kepada segala makhluk (Mrk 16:15).
c.    Menjalankan pelayanan dalam kasih dan usaha menegakkan keadilan perdamaian dan keutuhan ciptaan (Mrk 10:45; Luk 14:18; 10:25, 27; Yoh 15:16).
Gereja dan umat Kristen Indonesia memahami dengan baik panggilannya di tengah masyarakat majemuk Indonesia. Dokumen-dokumen yang dihasilkan sidang raya memberikan indikasi yang amat kuat tentang itu. Dalam dokumen pemahaman bersama iman Kristen (PBIK), gereja yang melalui Sidang Raya XIV Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) merumuskan pemikiran yang amat bernas.
Dinyatakan gereja ada di tengah dunia sebagai arak-arakan umat Allah (Kej 12:3; Maz 84:8; Yes 2:2–3; Ibr 12:1; Kis 1:8; II Kor 2:14), yang terus bergerak menuju kepenuhan hidup dalam kerajaan Allah (Fil 3:12-14). Ia dituntut selalu terbuka kepada dunia, agar dunia terbuka kepada undangan Allah untuk turut serta di dalam arak-arakan orang percaya menuju pemenuhan janji Allah akan kerajaan-Nya di dalam Yesus Kristus (1 Ptr 2:9–10; 3:15-16).
Dengan senantiasa membina kerja sama dengan pemerintah dan semua pihak dalam masyarakat, untuk mendatangkan kebaikan dan damai sejahtera bagi semua orang. Gereja ditempatkan oleh Tuhan untuk melaksanakan tugas panggilan-Nya dalam konteks sosial, politik, ekonomi dan budaya.
Gereja–gereja di Indonesia dipanggil di tengah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka dan berdaulat berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, yang diyakini sebagai anugerah Tuhan. Tanda pengutusan Tuhan agar gereja–gereja secara aktif mengambil bagian dalam mewujudkan perdamaian, keadilan di Indonesia.
Gereja terpanggil secara aktif dan kreatif mencegah segala hal yang merendahkan harkat dan martabat manusia serta segala hal yang merusak lingkungan alam. Tugas panggilan itu dilaksanakan melalui berbagai upaya pencegahan sekaligus penegakan hukum/keadilan bagi seluruh rakyat.
3.    Gereja mengakui negara adalah alat Tuhan untuk mensejahterakan manusia. Oleh karena itu, gereja dan negara harus bahu-membahu menegakkan keadilan dan mengusahakan kesejahteraan seluruh rakyat serta keutuhan ciptaan. Namun, sebagai lembaga keagamaan yang otonom, gereja mengemban fungsi dan otoritas yang bebas dari pengaruh negara, karena mempunyai fungsi tersendiri dalam menjalankan panggilannya di dunia (Rm 13:16–17; 1 Ptr 2:13–14).
Dengan demikian gereja dan negara harus membina hubungan yang kondusif dan bukan hubungan subordinatif dimana yang satu menguasai yang lain. Gereja dan negara masing–masing mempunyai tugas dan panggilan yang harus dilaksanakan penuh tanggung jawab untuk kebaikan seluruh manusia dan seluruh ciptaan. Gereja mempunyai kewajiban untuk menaati hukum negara, sebaliknya negara wajib melindungi seluruh rakyatnya, termasuk gereja agar leluasa dalam menjalankan fungsi dan tugas panggilannya.

Gereja Kristen Pasundan: Pemahaman Ulang
4.    Gereja Kristen Pasundan yang lahir pada 14 November 1934, adalah gereja wilayah bukan gereja suku. Pemahaman ini penting sebab akan berkaitan erat dengan keanggotaan dan pendirian/aspek “ekspansi” gereja.
a.    GKP hanya berdiri di suatu wilayah tertentu. Dahulu, DKI Jakarta dan Jawa Barat, kini DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Di luar wilayah itu tidak boleh didirikan GKP. Jika ada warga GKP yang pindah wilayah luar tiga wilayah itu, mereka bisa menjadi anggota gereja lain “yang seajaran” atau gereja anggota PGI lainnya.
b.    GKP mesti memiliki concern terhadap wilayah tempat ia diutus. Concern dalam arti memahami pemetaan wilayahnya dari segi demografis, agama dan sebagainya, serta memberikan kontribusi optimal bagi pembangunan di wilayah itu.
c.    GKP terbuka untuk menerima anggota dari berbagai latar belakang suku dan denominasi, sesuai persyaratan yang diatur dalam TG/PPTG GKP.
5.    Sebagai gereja wilayah, GKP memiliki anggota yang majemuk dari segi suku dan latar belakang.

Gereja di Tengah Dunia
6.    GKP harus menjadi gereja yang berkarya di tengah dunia. Bidang pelayanan yang ada: kesehatan, pendidikan, sosial harus disinergikan.
7.    Akses kepada pemerintah di berbagai aras, pengembangan hubungan lintas agama, pemantapan relasi dan jejaring, hubungan personal dengan tokoh-tokoh kunci di berbagai aras (sinode, jemaat) menjadi kebutuhan yang tidak bisa diremehkan.
8.    Pada HUT GKP tahun 1985 dirumuskan tiga hal yang menjadi dasar mengapa kita harus bangga terhadap GKP:
a.    GKP lahir tahun 1934 sebelum Indonesia merdeka, GKP termasuk gereja tertua di Indonesia.
b.    GKP sangat oikumenis: keanggotaan dan pemimpinnya amat majemuk, menjadi salah satu gereja pendiri PGI.
c.    GKP hidup di tengah masyarakat yang memiliki kadar keagamaan yang kuat.
GKP dengan karunia Tuhan sudah 81 tahun meniti jalan pelayanan yang terjal, tandus dan penuh bahaya. GKP harus semakin maju, modern, profesional. Jika tidak, GKP sekadar nama. Selamat HUT ke-81! (*)
Penulis adalah mantan Wakil Sekretaris Umum PGI.

Sumber : Sinar Harapan