Balon Google, Pembawa Kabar Gembira bagi Pengguna Internet!

Ketika tiang listrik dan kabel tak lagi menjadi penentu sinyal internet Anda.

Pin It

Ist /

Berselancar internet, baik sekadar membuka media sosial yang kini telah menjadi salah satu gaya hidup global, mencari informasi-informasi menarik, bahkan melakukan e-learning program pendidikan jarak jauh sebentar lagi tak akan terhambat jaringan internet yang buruk. Ya, setidaknya itulah harapan dari Proyek Loon atau balon Google yang diresmikan pada Rabu (28/10) sebagai “malaikat jaringan internet”.

Kenapa disebut balon dan malaikat jaringan internet? Itu karena bentuknya seperti balon udara bening, berbahan lembaran plastik polyethylene dengan tebal 0,076 milimeter, berada di atas langit tanpa kabel dan tanpa tiang-tiang penyangga bak malaikat terbang. Ukurannya pun terbilang jumbo, yaitu lebar 15 meter dan tingginya 12 meter.

Indonesia patut merasa beruntung karena menjadi negara keempat yang diberikan proyek ini, mengingat jumlah penduduknya yang amat banyak dan wilayahnya yang terlampau luas, pasti balon Google sangat membantu kebutuhan pengguna internet, sekalipun di pelosok! Yang perlu Anda ketahui, wilayah pertama Indonesia pada awal 2016 yang mencicipi kecanggihan si balon adalah lima titik di Sumatera, Kalimantan, dan Papua.

Nah, waktu yang dibutuhkan untuk uji coba balon Google yang nanti dibantu oleh Indosat, XL, dan Telkomsel ini memang tak instan, tepatnya sekitar dua tahun. Sebelumnya, Proyek Loon pernah diuji coba di Selandia Baru pada 2013, di Brasil pada Mei 2014, dan di Australia pada Desember 2014. Butuh ratusan balon Google untuk menjangkau seluruh wilayah Nusantara yang luas ini. Jadi, Anda memang harus bersabar untuk merasakan keoptimalan jaringan 4G LTE pada frekuensi 900 MHz yang dihasilkannya.


Jika Anda penasaran sampai sejauh mana kekuatan internet si balon itu dapat menjangkau, jawabannya adalah sampai 40 kilometer dari tempatnya berada. Supaya tak mengganggu lalu lintas pesawat, si balon akan ditaruh 20 kilometer di atas permukaan bumi, tepatnya di lapisan stratosfer selama 100 hari. Jadi, jangan khawatir si balon akan bertabrakan dengan pesawat.

Berbeda dengan balon lainnya, balon Google yang mampu terbang hingga 500.000 kilometer itu sulit mengempis. Soalnya, ia memiliki croce alias sistem pemompa udara sendiri. Siang hari, balon Google akan menyerap tenaga surya sebanyak 100 watt yang digunakan untuk bahan bakarnya di malam hari dan memiliki kotak pengatur sistem berisi antena radio dan Ubiquiti Network Rocket M2 untuk berkomunikasi dengan balon lain. Misalnya, ada balon yang keluar jalur, nah balon lain akan bergerak untuk menggantikannya. Sangat jenius, bukan?
     

Sumber : Sinar Harapan