Rela

Kontemplasi Peradaban

Zaman sekarang, sering kita dengar ungkapan, seperti, "Aku rela berkorban demi nyai," atau "Para relawan mengawal Nawacita yang dicanangkan Jokowi," atau "Pejabat itu dengan mudah rela melepaskan jaba

Pin It

/

TURUN - Zaman sekarang banyak pejabat yang ogah diturunkan dari jabatannya dan berusaha mempertahankan jabatan itu mati-matian. (Ilustrasi)

“Qui proiecto vestimento suo exiliens, venit ad eum”
– Lalu ia menanggalkan mantelnya, segera berdiri, dan pergi mendapatkan Dia (Mrk 10: 50). 

Saya pernah mendengar sebuah lagu secara samar-samar, “Aku rela kasihku pergi bersama si dia…” Ini sebuah lagu yang menyentuh kalbu dan mengharukan. Lantas kita bertanya, “Benarkah orang itu rela melepaskan dia?”

 Zaman sekarang, sering kita dengar ungkapan, seperti, “Aku rela berkorban demi nyai,” atau “Para relawan mengawal Nawacita yang dicanangkan Jokowi,” atau “Pejabat itu dengan mudah rela melepaskan jabatannya yang empuk.”

Memang orang yang rela itu seolah-olah mengganggap relasi dan kekayaan itu bagaikan mainan. Kemudian kita bertanya, “Benarkah demikian?” 
Sri Paduka Mangkunagara IV (1809–1881) dalam bukunya yang berjudul, Wedhatama menulis, “Lila lamun, kelangan nora gegetun– rela yang berarti tidak menyesal apabila kehilangan sesuatu.” 

Istilah lila yang biasanya diterjemahkan sebagai “rela” sebenarnya memiliki makna jauh lebih dalam. Lila juga berarti “permainan”. Kerelaan hanya bisa terjadi apabila kita mengganggap dunia ini hanya sebagai suatu permainan atau pertunjukan. Kehilangan dan keperolehan atau suka dan duka semuanya hanya terjadi dalam “permainan” yang sedang dimainkan. 

Karena itu, saya sering merasa heran apabila ada orang yang memiliki jabatan, kemudian bersikap mati-matian memegang jabatan tersebut. Ingatlah bahwa semuanya akan berlalu. “There is a time for everything… – Untuk segala sesuatu ada masanya (Pkh 3:1).” 

 Memang benar yang paling sulit itu adalah rela melepaskan jabatan. Dengan jabatan, seseorang bisa memerintah dan memiliki fasilitas. Shakespeare (1564–1616) dalam dramanya yang berjudul King Henry VIII memperlihatkan kepada kita bahwa sosok raja yang ambisius tidak pernah mau melepaskan jabatannya. Dalam drama itu, Kardinal Wolsey berkata, 
Aku menuntutmu untuk mengenyahkan ambisimu karena itulah dosa yang membuat malaikat jatuh!

Sang Kardinal mengingatkan, jabatan itu sifatnya hanya sementara. Hal itu sama dengan kisah-kisah Bhagavad Gita – “Nyanyian mulia”, yang ditulis  3.000 tahun sebelum Masehi. 

Ketika Arjuna dalam keadaan loyo dan tidak semangat, Krishna memberi nasihat. “Ibarat seseorang melepaskan pakaian lama dan memakai pakaian baru. Hidup ini bagaikan melewati cakra panggilingan (roda berputar) yang bermakna hari ini memegang jabatan, tapi esok atau lusa tentu harus dilepaskan.” 
Sebagai akhir dari kontempasi ini, baiklah kita merenungkan lebih dalam lagi dengan mengutip kisah Bartimeus (Mrk 10:50). Ditulisnya, “Ia menanggalkan mantelnya, melonjak, dan datang kepada Yesus.” 

Menanggalkan mantelnya mempunyai arti sama dengan meninggalkan segala-galanya. Mantel sejak zaman kuno memiliki makna khusus. “Kalau engkau mengambil mantel saudaramu sebagai tanggungan, engkau harus mengembalikannya sebelum matahari terbenam sebab mantel itu satu-satunya yang ia punyai untuk menutup tubuhnya,” (Kel 22: 25–26). 

Penulis adalah rohaniwan.

Sumber : Sinar Harapan