Jangan Takut Merawat Pasien di Rumah

Pasien akan lebih nyaman dengan perawatan semacam ini.

Pin It

Ist / Ilustrasi

JAKARTA – Perawatan paliatif memang masih terdengar asing di Indonesia. Namun, perawatan jenis ini adalah yang paling dibutuhkan dan efektif bagi pasien penyakit yang telah memasuki tahap akhir. Perawatan paliatif dapat meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarganya.

“Asuhan paliatif adalah perawatan berbasis rumah. Perawat melakukan penanganan nyeri dan tetap mempertahankan kondisi pasien dalam kondisi yang stabil. Tidak hanya dukungan medis, tapi juga dukungan psikososial dan spiritual bagi pasien dan keluarga,” ungkap Pendiri Yayasan Rumah Rachel, Lynna Chandra dalam acara peringatan Hari Perawatan Paliatif Sedunia di Jakarta, Selasa (13/10).

Lynna mengatakan, walaupun perawatan dilakukan di rumah, pasien dapat tetap terkontrol dengan baik oleh dokter yang menanganinya di rumah sakit. Setiap minggu perawat akan memperbaharui informasi dokter melalui laporan pemantauan pasien. Hal tersebut adalah salah satu yang masih dikhawatirkan oleh keluarga pasien karena menganggap pasien yang dibawa pulang ke rumah dianggap tidak punya harapan untuk disembuhkan. Lynna mengakui butuh kerja keras untuk menyosialisasikan apa itu perawatan paliatif karena sesungguhnya perawatan jenis ini adalah yang dibutuhkan pasien dan keluarganya.

Selama ini kematian yang baik dan tidak sakit merupakan sesuatu kemewahan khususnya bagi pasien kanker. Tidak jarang dari pasien yang merasa takut untuk menghadapi kematian. Itulah tugas para perawat melalui perawatan paliatif untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarganya dalam menghadapi kondisi yang membatasi hidup.

Salah satu perawat yang bertugas di Yayasan Rumah Rachel, Rina Wahyuni, menjelaskan bagaimana perawat meningkatkan kualitas hari-hari terakhir pasien. Melalui pendekatan yang dilakukan perawat, pasien akan lebih mudah untuk mengungkapkan perasaan yang ia rasakan, bahkan keinginannya menjelang kematian.

“Kami sebagai perawat harus melakukan pendekatan dengan berbagai cara agar anak tidak merasa stres atau takut dengan kematian. Kami juga memberi tahu orang tua bahwa baiknya anak diberi tahu keadaan yang sebenarnya bahwa kelak karena penyakitnya ia akan meninggal. Dengan cara itu anak akan mempersiapkan diri walaupun pasti ada rasa takut di benaknya,” ungkap suster berkerudung ini.

Rina mengakui, hasil perawatan paliatif ini cukup baik. Banyak anak yang ia rawat mengungkapkan keinginannya sebelum kematian. Contohnya ada anak yang ingin mendonorkan kursi rodanya untuk Yayasan Rumah Rachel jika ia meninggal kelak, kemudian ada yang berpesan kepada kedua orang tuanya agar tidak kesepian ketika ia tiada. Keinginan tersebut salah satu target dari peningkatan aspek emosional dan psikososial dari perawatan paliatif.

Selain itu, keluarga terutama orang tua juga terus didampingi oleh tim perawat paliatif pra dan pasca kepergian anak. Pendampingan ini ditujukan agar orang tua tidak merasa bersalah atau takut. Rina juga mengatakan berkat bimbingan dari tim perawat paliatif, banyak orang tua yang bisa lebih banyak menghabiskan saat terakhir bersama sang anak.
 
Dukungan Pemerintah

Upaya Yayasan Rumah Rachel telah sejalan dengan kebijakan pemerintah yang menggarisbawahi konsep asuhan paliatif. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan kebijakan melalui Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 812/Menkes/SK/VII/2007 mengenai Kebijakan Perawatan Paliatif.

Staf Khusus Menteri Bidang Peningkatan Kemitraan dan SDGs, Diah S Saminarsih mengatakan, pemerintah sangat berterima kasih kepada organisasi yang mengenalkan perawatan paliatif kepada masyarakat. 

Menurut Diah, perawatan paliatif sangat tepat diterapkan di Indonesia karena sesuai dengan hasil era JKN, penyakit yang menduduki peringkat nomor satu di Indonesia adalah penyakit tidak menular, terutama kanker. Pasien tidak dapat berlama-lama dirawat di rumah sakit karena masih banyak pasien lain yang mengantre untuk mendapatkan tempat perawatan di rumah sakit. Oleh karena itu perawatan di rumah harus terus disosialisasikan kepada keluarga pasien.

“Hingga kini sudah banyak rumah sakit pemerintah maupun swasta yang menerapkan perawatan paliatif. Di 14 rumah sakit yang berada di bawah naungan pemerintah seperti RSUP Hasan Sadikin Bandung dan RSUP dr. Sardjito Yogyakarta,” kata Diah.

Walaupun telah dinaungi kebijakan pemerintah, berbagai kesulitan kerap dijumpai tenaga kesehatan perawatan paliatif. Kurangnya kesadaran masyarakat akan perawatan paliatif adalah yang paling banyak ditemui. Selain itu, hambatan budaya dan sosial akan kepercayaan tentang kematian di keluarga pasien. Masih banyak keluarga pasien yang tidak terima jika pasien dibawa pulang ke rumah ketika sudah masuk tahap akhir penyakit. Kemudian juga kurangnya keterampilan dan kapasitas tenaga kesehatan.

Yayasan Rumah Rachel berharap pemerintah akan mengintegrasikan asuhan paliatif dalam kebijakan kesehatan nasional. Lynna mengungkapkan, menyertakan ausuhan paliatif dalam pelatihan tenaga kesehatan dapat mempermudah akses tenaga kesehatan di daerah-daerah terpencil di Indonesia. Selain itu, pemerintah juga diharapkan dapat menyediakan layanan asuhan paliatif di puskesmas dan rumah pasien. 

Sumber : Sinar Harapan