Ilmuwan Ciptakan Implan Penangkap Sel Kanker

Saat ini, implan-implan itu baru ditanam dalam tubuh tikus-tikus.

Pin It

www.bbc.com /

Para ilmuwan di Amerika Serikat, Selasa (8/9), mengatakan bahwa mereka telah menciptakan sebuah implan kecil yang mampu menangkap sel-sel kanker yang menyebar di seluruh tubuh. Saat ini, implan-implan itu baru ditanam dalam tubuh tikus-tikus.

PARIS - Para ilmuwan di Amerika Serikat, Selasa (8/9), mengatakan bahwa mereka telah menciptakan sebuah implan kecil yang mampu menangkap sel-sel kanker yang menyebar di seluruh tubuh. Saat ini, implan-implan itu baru ditanam dalam tubuh tikus-tikus.   

Selama ini, sel-sel bergerak dari tempat awal kanker untuk menginfeksi organ-orang lain dalam sebuah proses senyap yang disebut metastasis. Biasanya, pendeteksian terlalu terlambat sehingga nyawa pasien gagal diselamatkan. Pendeteksian dini sel-sel tumor yang beredar (CTC), dalam aliran darah bisa mempercepat diagnosis dan pengobatan untuk menyelamatkan nyawa.   

Namun, sel-sel kanker yang mengembara ini berjalan dalam jumlah yang sangat kecil, kadang-kadang untuk periode waktu yang panjang, sebelum berdiam di sebuah tempat baru.  Hal ini menyebabkan sel-sel itu sangat sulit ditemukan. Kajian yang dimuat dalam jurnal Nature Communication ini menyatakan, tindakan menangkap CTC akan mencegah penyebaran dan membantu menghentikan perkembangan penyakit.   

"Hewan-hewan yang menerima sebuah implan secara signifikan telah mengurangi beban dalam paru-paru mereka dibandingkan hewan-hewan yang tidak memiliki implan,” seru Lonnie Shea, salah seorang peneliti di Northwestern University, Illinois, kepada AFP.   

Dalam percobaan-percobaan tersebut, Shea dan sebuah tim membuat piringan-piringan yang bisa terurai dengan lebar sekitar setengah sentimeter dan ditanamkan dua per  tikus. Implan—yang menggunakan sel-sel kebal sebagai umpan—juga memiliki sebuah pemindai untuk mendeteksi kehadiran sel-sel yang terperangkap.   

“Sistem-sistem kombinasi memungkinkan pendeteksian awal penyakit metastasis," seru Shea lewat email.

Ia menjelaskan, keuntungan awal adalah pendeteksian—menangkap metastasis sebelum menyebar secara luas ke seluruh tubuh.

"Namun, kesempatan untuk mengurangi beban (penyebaran sel) bisa berpotensi memperpanjang periode waktu sehingga pengobatan-pengobatan bisa efektif,” katanya.

Sumber : Sinar Harapan