Mengisap Ganja dengan Rokok Elektrik

Para remaja di AS yang mencoba rokok menggunakan perangkat rokok elektronik, cenderung dua kali lebih mudah beralih ke rokok konvensional daripada mereka yang belum pernah mencoba perangkat tersebut.

Pin It

Ist /

Banyak remaja di AS mengisap ganja menggunakan perangkat rokok elektrik

JAKARTA – Tim peneliti dari Oberlin College di Ohio khawatir dengan meningkatnya penggunaan rokok elektrik di kalangan remaja. Itu karena para remaja ini menggunakan perangkat tersebut untuk mengisap ganja.

Tim yang dipimpin Meghan Morean telah meneliti 4.000 remaja. Hasil penelitian yang telah diterbitkan di Jurnal Pedriatik, Senin (7/9) ini, menunjukkan satu dari lima siswa SMA menggunakan rokok elektrik untuk mengisap ganja. Menurutnya, tetrahydrocannabinol atau THC merupakan bahan psikoaktif utama dalam ganja. Bahan tersebut dapat membuat orang lebih berkonsentrasi.

“Bentuk ganja yang bisa menguap, seperti minyak goreng, bisa berkali-kali lebih kuat dari ganja yang dibakar seperti rokok,” kata Morean dalam e-mail.
Sebuah studi yang dirilis bulan lalu menyebutkan, para remaja di AS yang mencoba rokok menggunakan perangkat rokok elektronik, cenderung dua kali lebih mudah beralih ke rokok konvensional daripada mereka yang belum pernah mencoba perangkat tersebut.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, sekitar 2 juta siswa sekolah menengah dan tinggi mencoba e-rokok pada 2014. Jumlah ini tiga kali lipat dari jumlah remaja yang menggunakan perangkat tersebut pada 2013.

Morean dan rekan menemukan 18 persen siswa yang menggunakan e-rokok telah menggunakan perangkat ini untuk menguapkan ganja dalam beberapa bentuk; termasuk minyak goreng dan lilin diresapi dengan THC, bahan psikoaktif ganja.

Para peneliti mengatakan, siswa SMA dalam penelitian ini 27 kali lebih mungkin untuk menggunakan e-rokok untuk menguapkan ganja daripada orang dewasa yang menggunakan e-rokok. Siswa laki-laki lebih dominan menggunakan e-rokok untuk menguapkan ganja daripada siswa perempuan.

“Kami tahu sedikit tentang efek jangka panjang akut dan potensi tinggi THC terhadap neurobiologi dan perilaku,” ujar Dustin Lee, peneliti di Geisel School of Medicine di Dartmouth College, New Hampshire.  Untuk jangka panjang, mereka akan terganggu fungsi otaknya.


Sumber : Sinar Harapan