Pembangunan Jalur Puncak II dan Kereta Gantung Tak Jelas

Macet akan semakin parah.

Pin It

Dok/SH/Septiawan /

PUNCAK MACET - Sejumlah kendaraan roda dua dan empat terjebak kemacetan di Puncak, Gadog, Jawa Barat, Minggu (4/1). Kemacetan parah terjadi sejak di simpang Gadok, Puncak.

Macet adalah pemandangan yang tidak asing lagi di jalur Puncak Bogor, apalagi saat akhir pekan. Macet menjadi hal yang biasa terjadi. Namun, hingga kini pihak terkait seperti kepolisian dan pemerintah daerah belum mampu mengatasinya. Apalagi, menjelang Leba­ran jumlah pemudik yang lewat jalur ini akan lebih banyak dari lalu lintas sehari-harinya.

Terkait macet, tidak berbeda dengan tahun lalu. Para pemudik Lebaran 2015 yang menuju kampung halaman melalui Puncak Pas, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, diperkirakan bakal terjebak kemacetan arus lalu lintas parah. Demikian juga warga Ibu Kota Jakarta atau penduduk Bogor, Depok, Tangerang maupun Bekasi (Bodetabek), yang ingin merayakan Idul Fitri pada 17-18 Juli 2015 di kawasan wisata Puncak, pasti ikut merasakan kemacetan tersebut. 

Seperti biasa, kemacetan itu sudah dirasakan ketika kendaraan berada di persimpangan Gadog, Kecamatan Ciawi. Para wisatawan baik mancanegara maupun turis lokal, harus bersabar mengantre, merayap menyusuri jalan yang terus menanjak hingga perbatasan wilayah Kabupaten Bogor dengan Kabupaten Cianjur. Terkadang kemacetan itu sudah dirasakan sejak pintu keluar gerbang Tol Ciawi. 

Perjalanan yang jaraknya sekitar 25 km itu, terkadang harus menghabiskan waktu tiga sampai empat jam. Ketika terjadi macet total, para wisatawan harus bersabar dan mencari tempat istirahat menunggu kemacetan mencair.
“Saya pernah tidak jadi Lebaran ke rumah orang tua di Cipanas karena terjebak macet di Megamendung, Bogor. Kendaraan sama sekali tidak bisa bergerak. Capek ikut bermacet-ma­cetan dan sudah malam, akhirnya saya dan anak-anak masuk hotel untuk istirahat,” tutur Dadan, warga Bogor, mengenang kisah­nya tahun lalu.

Menurutnya, pemerintah lamban mengembangkan infrastruktur jalan protokol yang menghubungkan Kabupaten Bogor dengan Kabupaten Cianjur itu. Padahal, jumlah turis yang datang ke daerah tersebut sangat tinggi karena sisi selatan Bogor merupakan daerah primadona wisata di Jabodetabek. 

Sejuta Kendaraan
Berdasarkan data dari Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ) Kabupaten Bogor pada hari H hingga H+2 Lebaran 2014, tercatat 915.087 unit kendaraan, baik roda dua maupun roda empat atau lebih melintas di jalur Puncak. Jumlah itu diperkirakan bertambah pada Lebaran kali ini hingga 1 juta lebih kendaraan.

Meski kemacetan arus lalu lintas di kawasan Puncak sudah dikeluhkan berbagai pihak dan selalu menjadi persoalan nasional, sampai saat ini belum ada solusi yang bisa diandalkan untuk memecahkan masalah tersebut. Pembangunan kereta gantung (cable car) yang diwacanakan pun kini tidak ada tindak lanjutnya. Padahal, wacana tersebut sangat disambut positif berbagai pihak. 

Wisatawan tidak keberatan meski kendaraan mereka ditinggal di daerah Gadog, Ciawi dan menggunakan kereta gantung ke kawasan Puncak. Ide pembangunan jalur kereta gantung Ciawi-Puncak ini bercermin pada jalur kereta api yang menuju pegunungan Alpen di Swiss atau Genting Highland di Malaysia.

“Itu pasti bisa mengurangi kepadatan lalu lintas dan beban jalan,” ujar Sekretaris Daerah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor, Adang Suptandar, saat itu.
Demikian juga program pembangunan Jalur Puncak II dengan rute Sentul-Cipanas, atau alternatif Puncak yang digarap Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Semula, pemerintah menargetkan pembangunan jalan sekitar 48 km ini rampung pada 2014. Untuk menyukseskan megaproyek tersebut, sejumlah pengembang di daerah ini menghibahkan lahannya ke Pemkab Bogor untuk kepentingan pembangunan Jalan Puncak II.

Pembangunan jalan itu sudah dilakukan sejak awal 2013. Bahkan, pengaspalan jalan sepanjang 2 km di Desa Hambalang, Kecamatan Babakan Madang, dan pembukaan lahan antara Kecamatan Sukamakmur dan Kecamatan Cariu sepanjang 15 km, sampai saat ini tak jelas. Proyek ini disinyalir menghabiskan anggaran Rp 750 miliar lebih.

Rp 789 Miliar
Bupati Bogor, Nurhayanti, juga tidak bisa memastikan kapan proyek pembangunan jalan Puncak II akan dilanjutkan. “Saya tidak tahu kapan proyek ini akan dilanjutkan. Nanti saya koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat karena mereka yang punya kewenangan,” katanya. 
Ia menjelaskan, pemerintah membangun Jalan Puncak II dibagi dalam tiga tahap. Tahap pertama dibangun sepanjang 28 km dengan lebar 30 meter mulai dari Babakan Madang (Sentul)-Sukamakmur-Jonggol. Tahap kedua Sukamakmur-Cariu (Jalan Transyogi) sepanjang 15 km. Tahap tiga Sukamakmur-Cipanas (Cianjur), dibangun dengan panjang jalan 10 km.

Namun pada 2015, tidak ada pengerjaan pembangunan jalan karena tidak ada anggarannya. Bupati Bogor akan meminta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat agar tahun depan proyek tersebut kembali dilanjutkan. Hal itu mengingat jalan ini akan menjadi penopang jalan menuju Puncak yang selama ini sudah padat.

Pihaknya juga akan meminta pemerintah pusat meng­alokasikan anggaran yang lebih besar, untuk membangun megaproyek yang digagas Pemerintah Kabupaten Bogor. Ini dilakukan sebab dana yang dikucurkan sejak awal pembangunan relatif sangat kecil, yakni kisaran Rp 40-45 miliar. 
“Total keseluruhan anggaran Rp 789 miliar, yang sudah dicairkan masih kecil. Tapi, nanti kami koordinasikan mudah-mudahan anggarannya bisa diperbesar supaya cepat selesai,” harap Nurhayanti.

Sumber : Sinar Harapan