Rokok Elektrik Juga Memicu Kanker

Peraturan tentang rokok elektrik masih digodok.

Pin It

Dok / healthblog.dallasnews.com

Ilustrasi.

JAKARTA - Rokok elektrik sama berbahayanya dengan rokok tembakau. Kedua jenis rokok itu mengandung zat berbahaya yang bisa memicu kanker paru-paru dan gangguan pernafasan.

“Dalam uap yang dihirup terkandung partikel yang sangat kecil, masuk ke paru-paru seperti nikotin, aerosol, zat perasa, dan karsinogen yang menjadi penyebab kanker,” kata Tjandra Yoga Aditama, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dalam diskusi membahas dampak rokok elektrik yang digelar Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) di Jakarta, Selasa (3/3).

Menurutnya, sebagian masyarakat menganggap rokok elektrik atau e-rokok yang kian marak peredarannya tidak berbahaya. “Saya cemas adanya persepsi bahwa e-rokok itu aman. Itu tidak benar,” ujar Tjandra.

Selain berbahaya, rokok elektrik juga berpotensi memicu seseorang terus merokok. Rokok elektrik juga tidak akan mengurangi kecanduan merokok bagi yang sebelumnya merokok tembakau.

Kepala Sub Bidang Pengawasan Rokok dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM), Lela Amelia mengatakan, kandungan zat di dalam rokok elektrik negatif terhadap kesehatan manusia. Sejauh ini, tidak ada penelitian yang menyatakan rokok elektrik baik dan aman untuk diisap manusia.

“Kandungan larutan dalam rokok elektrik negatif untuk kesehatan. Belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan manfaat rokok elektrik,” kata Lela. 

Sejumlah zat berbahaya yang terkandung dalam rokok elektrik adalah nikotin, propylene glycol, glycerol, perasa, logam, dan karbonil, tambahnya. 

Lela menjelaskan, data penelitian Badan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) AS menunjukkan, pengguna rokok elektrik terbanyak berasal dari kalangan pelajar yang jumlahnya 4,9 dari 9,7 persen perokok elektrik.

Tjandra juga menjelaskan, sejumlah negara di Asia dan Eropa telah memiliki aturan soal rokok elektrik. Singapura dan Austria, misalnya, telah melarang peredaran rokok elektrik. Selandia Baru, Swiss, dan Jepang sudah dalam tahap menyetujui rancangan aturan pelarangan e-rokok pada Oktober 2014.

Bagaimana dengan Indonesia? Menurut Tjandra, Kemenkes sedang menggodok peraturan untuk membatasi penggunaan rokok elektrik. Namun, untuk menelurkan kebijakan tersebut perlu melakukan banyak penelitian independen.

Hingga kini, rokok elektrik masuk ke Indonesia bukan sebagai komoditas rokok atau obat-obatan, melainkan alat elektronik. Artinya, rokok elektrik melenggang ke pasar dengan izin Kementerian Perdagangan, tanpa izin edar dari Badan POM serta bebas dari cukai. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, saat ini ada 466 merek produk rokok elektrik global dengan nilai penjualan mencapai US$ 3 miliar.

Sumber : Sinar Harapan