Armada Evakuasi Sinabung Minim

Armada menuju lokasi pengungsi yang paling dibutuhkan tim tanggap bencana Sinabung.

Pin It
JAKARTA – Tim Tanggap Bencana Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, tetap siaga mengevakuasi penduduk di lima kecamatan yang terkena dampak langsung erupsi Gunung Sinabung, meski banyak kendala di lapangan. Salah satu kendala besar yang dihadapi adalah ketiadaan armada untuk ke lokasi pengungsi dan evakuasi. “Armada menuju ke lokasi belum ada, harus menumpang. Padahal, itu yang paling menunjang kinerja tim tanggap bencana,” kata Jajanta Sembiring kepada SH dari Posko Utama Sinabung, Tanah Karo, Senin (3/11).

Ia menjelaskan, armada sangat dibutuhkan, apalagi pada saat penting, misalnya waktu terjadi lahar dingin. Dari posko utama ke desa terdampak membutuhkan waktu 30-45 menit. Sulit bila menggunakan sepeda motor karena kondisi jalan di gunung tidak rata.

Selain itu, Jajanta memaparkan, jumlah tim tanggap bencana setiap hari siaga 24 jam di Posko Utama Sinabung sedikit. Menurutnya, total ada 75 orang di tim tanggap bencana, tetapi hanya 30 yang aktif.

Terkait jumlah, Kepala Seksi Bantuan Darurat Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam Kementerian Sosial (Kemensos0, Jhoni Pasomba menerangkan kepada SH, jumlah tim tanggap bencana memang diatur dan dibatasi anggaran Kemensos. Namun ia menyebutkan, pemerintah daerah setempat semestinya merespons dan peduli akan hal ini. “Bila terjadi kekurangan jumlah relawan, pemda (pemerintah daerah) dapat mendukung dengan mengeluarkan dana dari APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah),” kata Jhoni.

Radio Komunitas
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Australia Indonesia Fasility Disaster Reduction (AIFDR) tengah merancang Rencana Induk Sistem Komunikasi Bencana 2014-2019. Ini adalah perwujudan kebijakan dan tata kelola sistem komunikasi bencana. Tujuannya membantu pemangku kepentingan dalam menjamin pelayanan publik, khususnya komunikasi bencana yang cepat, akurat, berkualitas, transparan, dan akuntabel terutama untuk masyarakat terdampak. “Kami mengembangkan radio komunitas yang berbasis masyarakat, belajar dari penanganan evakuasi saat erupsinya Gunung Kelud (Jawa Timur),” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, kepada SH.

Masyarakat di sekitar Merapi dan Kelud relatif lebih siap. “Radio komunitas di sana akan menyiarkan kondisi terkini dari pos pengamatan gunung,” ucapnya.

Sumber : Sinar Harapan