Kisah Panjang Sanggar Anak Akar

Sanggar Anak Akar bukan sekadar berpentas teater, konser musik, dan membuat kerajinan.

Pin It
Menjadi pendamping sanggar anak pinggiran yang tak hanya memberikan pengajaran tapi juga sarana kreativitas, bukan persoalan mudah. Empat belas tahun sudah, lelaki bernama Susilo Adinegoro itu dikenal sebagai pendamping anak-anak pinggiran, termasuk anak jalanan. Mereka tak hanya dibekali pendidikan sehingga dapat mengikuti ujian kesetaraan kejar paket A untuk SD, kejar paket B untuk SLTP, dan kejar paket C untuk SMU/SMK/MA dengan sukses, tetapi juga memiliki kualitas yang sama dengan anak segenerasinya.

Nyatanya, banyak anak yang lulus ini tak memakai ijazah sebagai sarana kerja, tapi malah melanjutkan pendidikan ke tingkat universitas. Beberapa di antaranya ada yang mengikuti short course di luar negeri dengan mengulik aplikasi di internet. Menurut Susilo, mereka hanya memberikan informasi, termasuk bagaimana membuat karya tulis hingga portofolio karya seni yang pernah mereka lakukan. Kalau soal karya, anak-anak ini jangan ditanya lagi, mereka pernah terlibat dalam puluhan konser dan pementasan di berbagai tempat, termasuk di gedung-gedung kesenian. “Kami hanya memberi informasi, ada peluang di sini, di situ, lalu anak-anak itu yang mencari sendiri,” ujar Susilo kepada SH, Jumat (31/10).

Bisa jadi orang pernah mendengar Sanggar Anak Akar yang terletak di Jalan Inspeksi Saluran Jatiluhur No 30 Cipinang Melayu Gudang Seng, Kalimalang. Ada tempat untuk mereka belajar, sebuah ruang apa adanya. Namun, di sanalah mereka diberikan materi pendidikan istimewa.
Ada moderator—pengajar aktif—dari berbagai kalangan, dari berbagai latar. Beberapa di antaranya bahkan alumni Sanggar Akar yang mengajar adik didik mereka. Para alumni itu antara lain Dede Supriatna, Saneri, Dini Nur Puji, dan Andrie “Perkusi” Setiawan. Sejak 2000, selain menjadi tempat pendidikan, Sanggar Anak Akar juga menjadi sarana berlatih kesenian. Anak-anak tak hanya dapat berpentas teater, tetapi juga menyajikan konser musik. Alhasil, di pinggiran Kalimalang, di sela kegiatan anak-anak yang tak dapat dicegah untuk melompat ke air kali, mereka mengenal berbagai materi pendidikan dan kreativitas sebagai bekal hidup. Beberapa anak bahkan tetap diberikan kesempatan untuk memotret, memberikan undangan pementasan, membuat rilis, bahkan menelepon dan mengundang wartawan.

Mereka bahkan terkadang menulis acara mereka di media kalangan sendiri. Mereka kemudian berproses dan berkarya di sana, mulai dari status mengontrak di tempat itu hingga kemudian kediaman itu menjadi milik mereka sendiri, milik anak-anak Sanggar Akar. Sebelum 2000, menurut Susilo mereka dan para Sahabat Akar—demikian mereka menyebut orang-orang yang secara sukarela berpartisipasi untuk mendampingi—kerap berpindah tempat. “Saat digagas pada akhir 1988, Sanggar Akar awalnya adalah bagian dari program Biro Advokasi Anak. Institut Sosial Jakarta yang mengadvokasi hak anak-anak jalanan. Kami melakukan advokasi perubahan kebijakan, pembelaan kasus dan pengembangan komunitas anak. Kami merasakan ketika itu, yang paling efektif adalah dengan pendekatan seni. Bagaimana mengajak anak-anak terlibat dalam cerita di teater atau dilirik lagu juga kerajinan tangan. Itulah cara yang kami jalankan,” ujarnya.

Pada 22 November 1994, di depan peserta sarasehan buruh dan warga pemukiman di Anyer, anak-anak sempat mementaskan operet pertama dengan judul Operet Banjir. Tanggal itu kemudian ditetapkan sebagai kelahiran Sanggar Anak Akar.
Advokasi kemudian banyak dilakukan Sanggar Anak Akar, antara lain pada 1995, memprakarsai pertemuan komunitas anak jalanan dan anak pinggiran dari berbagai kota, bertajuk “Gebyar Kreasi Anak Indonesia” dan menandai kegiatan edukatif yang mereka adakan secara reguler. Peristiwa pada tahun sebelum Reformasi membuat para pendamping dan anak-anak mendapat tekanan dari pemerintah yang berkuasa masa itu.

Mereka lalu membuat lokakarya tentang pendidikan yang dapat melibatkan anak-anak. Ada model pendidikan dan media pembelajaran yang diterapkan di Sanggar Anak Akar. “Banyak yang ikut mendukung hingga membina Sanggar Anak Akar, sebutlah nama-nama seperti Hilmar Farid, Dolorosa Sinaga, Melani Budianta, Bambang Widyoyanto, dan Ivonne Therik. Pada 2001, kami pun menerapkan kurikulum dari proses lokakarya itu, kemudian pada 2009 memberanikan diri membentuk Sekolah Otonom Sanggar Anak Akar. Kurikulum kami buat, model itu kemudian diterapkan ke kampung-kampung. Seluruh proses pembelajaran kemudian dapat terukur dan hasilnya pun kelihatan,” tuturnya. Belasan tahun sudah, lelaki kelahiran 23 September 1959 ini mendampingi Yayasan Sanggar Anak Akar. Di struktur formal, yang menjadi Rektor Sekolah Otonom Sanggar Anak Akarnya adalah IB Karyanto, yang bertugas menjaga visi pendidikan.

Kini, telah banyak dukungan untuk kegiatan yang mereka lakukan. “Tahun lalu kami difasilitasi dan diminta Dinas Pariwisata DKI Jakarta untuk meningkatkan apresiasi seni pertunjukan di kampung-kampung. Jakarta itu kampung urban. Kami diminta berkarya dan mengisi ruang untuk berekspresi, termasuk di lima kampung, seperti wilayah Bantaran Kali Ciliwung, Pasar Rebo, Cipinang Besar Selatan, Kampung Makasar, dan Plumpang,” katanya.
Sanggar Anak Akar bahkan telah menjadi salah satu dari anggota Koalisi Seni Indonesia (KSI), organisasi berbadan hukum perhimpunan disahkan Kementrian Hukum dan HAM Republik Indonesia, 16 Januari 2013. Dalam Festival Perkusi, Hivos yang menjadi mitra KSI ini justru tertarik agar Sanggar Akar membuat program penguatan masyarakat sipil lewat sekolah kampung.

“Sekolah kampung kami buat sejak 2000. Festival Perkusi hanya event, kami justru ingin sanggar dapat menjadi sarana edukasi publik. Setelah festival, kami berharap ada semacam biennale seni untuk anak. Kami bukan melibatkan kelompok seni pertunjukan anak, melainkan lebih ke komunitas. Bukan hanya seni rupa, melainkan juga seni pertunjukan,” ujarnya. Tahun ini, Sanggar Anak Akar juga berkerjasama dengan Serrum—sebuah komunitas seni rupa yang beranggotakan mahasiswa Universitas Negeri Jakarta. Mimpinya, mereka akan membuat komunitas school of art yang punya jaringan internasional sehingga dapat mempertemukan anak-anak se-ASEAN.

“Kalau basisnya komunitas, kami akan dapat membangun kesadaran kolektif lewat media seni untuk melakukan perubahan. Kesenian itu penting. Bukan hanya menciptakan keahlian, melainkan juga ilmu. Orientasi kami bukan hanya menerima pengetahuan, melainkan juga memproduksi pengetahuan. Kenapa begitu? Proses anak-anak berkarya itu kan dapat dijadikan buku. Buku yang menulis proses kreatif dan karya kreatif anak-anak itulah yang kemudian kembali melahirkan pengetahuan,” kata Susilo.


Sumber : Sinar Harapan