Rokok Elektrik Bisa Menyebabkan Penyakit Paru

Proses pemisahan partikel pada rokok elektrik bisa menyebabkan iritasi pada jaringan paru-paru.

Pin It
JAKARTA – Banyak orang memilih mengisap rokok elektrik yang dianggap lebih sehat. Tapi, studi baru menunjukkan, 
rokok elektrik yang dianggap alternatif sehat, ternyata tidak sesehat yang dikira.

Rokok biasa mengandung hampir 600 zat adiktif, yang 69 dari zat itu termasuk karsinogen. Nah, tidak seperti rokok biasa yang membakar tembakau kering, rokok elektrik menggunakan baterai yang memanaskan cairan nikotin, mengutip metro.co.uk, Selasa (19/7). Pemanasan tersebut menghasilkan aerosol yang bisa ditelan. 

Rokok elektronik yang mahal membuat Anda bisa mengatur suhu sehingga bisa meningkatkan pengeluaran nikotin. Karena cairan nikotin ini tidak mengandung zat karsinogen, dipercaya risiko penyakit paru-paru juga menurun dibandingkan rokok biasa.

Namun, peneliti dari Rowell Park Cancer Institue di Buffalo, New York, Amerika Serikat, menyatakan bahwa proses pemisahan partikel pada rokok elektrik bisa menyebabkan iritasi pada jaringan paru-paru dan menyebabkan penyakit.

Partikel dalam rokok biasa memiliki ukuran 0,3 hingga 0,5 mikron. Namun, pada rokok elektronik, ukurannya lebih kecil, yaitu 0,18 hingga 0,27 mikron. Ini berarti, partikel tersebut bisa ke paru-paru lebih dalam dan melekat pada alveolus–tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida di paru-paru–sehingga bisa menyebabkan penyakit. Menurut peneliti, 40 persen dari partikel yang menguap bisa mengendap.

Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa dengan peningkatan voltase pada rokok elektrik yang sebelumnya 3,2 Volt menjadi 4,8 Volt, menyebabkan produksi formaldehida sama dengan rokok biasa. Formaldehida adalah zat yang diproduksi oleh sel metabolisme di tubuh dalam jumlah sedikit. Namun, dalam jumlah banyak, dipercaya zat ini bisa menjadi karsinogen.

Rokok elektronik telah digunakan dalam 10 tahun terakhir. Jadi, belum diketahui apakah penelitian ini benar atau tidak. Yang pasti, risiko dari penggunaan rokok elektronik belum dieksplor lebih jauh.

Sumber : metro.co.uk