Cukup Lima Menit Saja

SBY menanggapi keheranan Jokowi terkait perolehan suara Partai Demokrat yang mencapai 10 persen.

Pin It
Kamera televisi standby, alat perekam suara dihidupkan, wartawan berjaga, tepat di depan gerbang pintu masuk kantor presiden, Istana Negara, Jakarta.

Dijadwalkan, Selasa (13/5), Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi, bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pukul 13.00 WIB.

Lebih cepat dari jadwal, mantan Wali Kota Solo yang mengenakan kemeja batik cokelat lengan panjang itu tiba pukul 12.45 WIB. Sorotan puluhan kamera langsung mengarah kepada lelaki yang kini menjadi calon presiden (capres) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu. Sambil tersenyum, Gubernur DKI Jakarta yang baru mengabdi kurang dari dua tahun itu mengurai maksud kedatangannya.

"Jadi, saya akan mengajukan surat izin kepada Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk pencalonan saya (sebagai presiden)," ucapnya.


Sambil melangkah terburu-buru, Jokowi menunjukkan map putih hardcover ke awak media. Isi mapnya adalah surat izin yang akan diberikan kepada Presiden SBY. Jokowi lalu bergegas masuk ke kantor presiden.

Beri Izin
Kedatangan capres PDIP itu disambut Presiden SBY. Sejenak mengabadikan gambar, wartawan diminta keluar ruangan. Tidak sampai lima menit, pertemuan Jokowi dan Presiden SBY selesai. Izin kepala negara dikantongi pria bertubuh ceking tersebut.


"Jadi, tadi saya mengajukan permohonan izin ke bapak presiden mengenai pencapresan. Bapak presiden langsung menyampaikan izin akan diberikan besok (Rabu, 14/5). Saya kira, sangat cepat beliau memberikan izinnya. Tadi beliau juga berpesan mengenai kesantunan dalam berkampanye, menjaga etika-etika dalam berkampanye dan berpolitik," tuturnya.


Setelah berkata demikian, Jokowi segera berjalan meninggalkan kantor presiden. Selama berjalan menuju mobil dinasnya, Jokowi masih melayani serbuan pertanyaan awak media.


Tak berselang lama, tepat di halaman depan kantor presiden, Biro Pers Istana mengumumkan, Presiden SBY akan memberikan pernyataan. Para kamerawan diminta mengatur posisi kamera dengan rapi.

Sekitar 15 menit menunggu, Presiden SBY didampingi Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, Sekretaris Kabinet Dipo Alam, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, dan juru bicara kepresidenan Julian Aldrin Pasha keluar dari kantor presiden. Presiden SBY berdiri di depan puluhan kamera yang siap merekam pernyataannya.

"Besok (Rabu), akan saya keluarkan izin resmi, izin tertulis, sesuai ketentuan perundang-undangan, termasuk peraturan pemerintah. Sejak saya berikan izin, Pak Jokowi berstatus nonaktif sebagai Gubernur DKI Jakarta hingga KPU (Komisi Pemilihan Umum) pada saatnya nanti menetapkan presiden dan wapres (wakil presiden) terpilih. Itulah inti pertemuan saya dengan Pak Jokowi," tuturnya.


Heran
Tiba-tiba, reporter sebuah televisi swasta baru bertanya tentang alasan penghitungan suara pemilihan legislatif (pileg) oleh KPU atau
real count perolehan suara Partai Demokrat yang melonjak.


Presiden SBY yang juga Ketua Umum Partai Demokrat sempat mengaku heran dan tidak mengerti arah pertanyaan tersebut. Dengan sigap, Julian membisikkan sesuatu ke Presiden SBY.

Ia baru memahami pertanyaan itu terkait pernyataan Jokowi yang mempertanyakan hasil
real count Partai Demokrat. "Saya juga diberitahu waktu berada di Myanmar. Pak Jokowi mengeluarkan statement, katanya beliau heran suara Partai Demokrat menjadi 10 persen," ujarnya.


Sambil menjawab, ia tampak sibuk mencari sesuatu di saku baju sebelah kirinya. Tapi, sesuatu yang tengah dicarinya itu urung dikeluarkan.

Bagi Partai Demokrat, kata SBY, perolehan 10 persen di Pileg 2014 bukanlah hal yang mudah diterima. Hal itu justru membuat partainya berduka dan berkabung. Pasalnya, hasil ini berbeda drastis dengan perolehan Partai Demokrat pada Pemilu 2009, mencapai hampir 21 persen.


SBY melanjutkan, partai yang dipimpinnya itu ikhlas menerima keadaan dan mengucapkan selamat kepada partai politik dengan perolehan suara yang lebih baik.

Presiden SBY akhirnya mengambil secarik kertas dari sakunya yang sejak tadi sudah dicarinya. Bersamaan dengan penuturan presiden, Sudi Silalahi memalingkan kepalanya ke kiri, bertatapan dengan Gamawan Fauzi.


Sudi tampak mengedipkan matanya ke Gamawan sambil tersenyum. Menteri dalam negeri itu membalas dengan senyum simpul. Entah apa yang membuat keduanya tersenyum saat itu.

"Kalau tidak salah, setelah saya baca, Pak Jokowi menganggap
quick count Demokrat hanya 7 persen sehingga begitu meningkat 3 persen, beliau heran. Nah, saya ngecek, yang salah saya atau Pak Jokowi? Saya minta dicek, coba berapa quick count-nya Demokrat? Selama ini, saya tidak ada masalah apa pun dengan Pak Jokowi. Oleh karena itu, saya ingin tahu di mana letak permasalahannya, kenapa tiba-tiba beliau heran dengan angka 10,19 persen," ucap Presiden SBY sembari mengernyitkan alis.


Menurut SBY, angka yang diperoleh partainya dari quick count hingga real count yang dikeluarkan KPU tak jauh berbeda.

"Daripada salah, saya minta staf, berapa sih quick count untuk Partai Demokrat kemarin. Kompas katakan 9,43 persen, LSI (Lembaga Survei Indonesia) 9,12 persen, Saiful Mudjani 10 persen, Indikator Pol Indo 9,7 persen, LSN (Lembaga Survei Nasional) 10,65 persen, Jaringan Survei 9,41 persen, RRI (Radio Republik Indonesia) 10,26 persen," tutur Presiden SBY sambil melipat kertas berisi data persentase perolehan suara pileg hasil penghitungan lembaga-lembaga survei.

Meski mempertanyakan sikap capres PDIP itu, SBY mengaku tidak ingin pernyataan dan keheranan Jokowi menjadi masalah. Hal yang terpenting, hasil real count telah disampaikan KPU secara resmi.

"Saya kira, tidak perlu diperpanjang. Saya kira, rakyat sudah tahu, inilah dunia survei, kita harus belajar kembali soal survei, tentang adanya margin of error," tuturnya.

25 Menit
Setelah memberikan keterangan, Presiden SBY melanjutkan memimpin ratas yang membahas rencana kerja pemerintah dan RAPBN 2015.


Usai ratas, SBY ganti menerima Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Prabowo Subianto, yang juga capres Partai Gerindra. Ada pula Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa, yang juga merupakan besannya.

Kompak memakai kemeja putih, Prabowo dan Hatta diterima SBY pukul 17.35 WIB. Pertemuan berakhir 25 menit kemudian, pukul 18.00 WIB. Dalam pertemuan tersebut, Hatta menyampaikan pengunduran dirinya karena menjadi cawapres Prabowo.


"Saya mendampingi Pak Prabowo sore ini menghadap presiden dan diterima. Pertama, sebagai menteri yang masih aktif, saya harus laporkan—lagipula sesuai peraturan undang-undang—pejabat negara atau menteri yang ikut serta pemilihan presiden (pilpres) ketentuannya harus mengajukan permohonan pengunduran diri. (Saya) mendapatkan izin dari presiden. Sudah saya sampaikan surat resminya kemarin (Senin, 12/5). Hari ini (Selasa) saya sampaikan lisan. Kita tunggu nanti keppres dari presiden," ujar Hatta.


Sumber : Sinar Harapan