Nasib Capres Konvensi dan WIN-HT

Sia-sialah ke-11 peserta konvensi capres Partai Demokrat road show debat capres.

Pin It
Keramaian Pasar Gembrong, Pangkalan Asem, Jakarta Pusat semakin semarak pada Selasa (13/5) petang itu. Di pasar itu, dua tokoh politik terkemuka bertemu.

Calon presiden (capres) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Joko Widodo atau Jokowi bersua Ketua Umum sekaligus capres dari Partai Golkar Aburizal Bakrie (ARB).

“Hari ini saya bertemu di Pasar Gembrong dengan Pak ARB. Kenapa di sini? Karena ekonomi kerakyatan ada di sini. Penjual pisang, ikan, sayur, tempe, tahu semuanya produk petani. Karena itu, diadakan pertemuan di tempat kerakyatan ini," kata Jokowi.

Pertemuan Jokowi dan ARB itu menjadi isyarat kuat bakal berkoalisinya PDIP dan Partai Golkar pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 9 Juli 2014. "Ini adalah langkah menuju koalisi," kata Aburizal.

Setelah pengumuman hasil resmi Pemilihan Legislatif (Pileg) 2014 oleh KPU, arah koalisi partai-partai politik untuk pilpres memang sudah semakin jelas. Dua kubu sudah pasti muncul, yaitu PDIP, Partai Nasdem, PKB, dan terakhir Partai Golkar yang mencalonkan Jokowi.

Sementara itu, di kubu lain Partai Gerindra tampak sudah semakin pasti bergandengan dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Amanat Nasional (PAN) untuk mengusung Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Dengan hampir finalnya dua poros tersebut, tinggal Partai Demokrat dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) yang masih belum jelas arah koalisinya. Partai Bulan Bintang (PBB) dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) karena perolehan suara yang tidak signifikan tentu bukan faktor penentu dalam koalisi.

Opsi yang tersedia, buat kedua partai itu (Demokrat dan Hanura-red) hanya bergabung dengan dua poros yang sudah ada atau bersedia beroposisi. Mereka tidak mungkin membentuk poros sendiri.

Gabungan suara kedua partai ini tidak mencukupi syarat minimal untuk mengusung capres-cawapres. UU Pemilu Presiden menyatakan pasangan capres-cawapres hanya bisa dicalonkan partai politik dan gabungan partai politik yang memenuhi 25 persen suara nasional hasil pileg atau 20 persen dari jumlah seluruh kursi parlemen.

Suara nasional Partai Demokrat hanya 10,9 persen dengan 61 kursi parlemen, sedangkan Hanura 5,26 persen dengan 16 kursi. Minimal kursi parlemen yang dibutuhkan untuk mengajukan capres dan cawapres adalah 112 kursi.

Nyaman dengan Besan
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) besar kemungkinan membawa perahu Partai Demokrat merapat ke poros Prabowo Subianto. Dalam poros itu, ada PAN dan Hatta Rajasa. PAN merupakan salah satu rekan koalisi yang loyal di kabinet SBY.

Lagi pula SBY tentu lebih nyaman bergabung dengan Hatta, besannya. Jangan lupa jika ingin merapat ke Jokowi, tentu SBY harus lebih intensif berkomunikasi dengan Megawati sebagai ketua umum PDIP. Padahal, hubungan keduanya diketahui kurang harmonis sejak 10 tahun lalu.

Di koalisi Prabowo juga ada Partai Persatuan Pembangunan (PPP), yang sebelumnya pernah membangun koalisi dengan Partai Demokrat. Ketua Umum PPP Suryadharma Ali juga sudah menyatakan menginginkan Partai Demokrat kembali bergabung dalam koalisi.

“Saya tentunya mengharapkan SBY bisa bergabung dengan kami. Namun, tentunya itu semua berpulang pada SBY.Tentunya beliau punya perhitungan tersendiri dalam melangkah," katanya.

Namun, Partai Demokrat tidak bisa berharap lebih dalam membangun koalisi kali ini. Jatah kursi wakil presiden mendampingi Prabowo sudah dipegang Hatta Rajasa.

Menteri Koordinator Perekonomian ini sudah mengajukan pengunduran diri dari kabinet. Mundurnya Hatta merupakan isyarat jelas dia akan maju sebagai wakil presiden. Karena sesuai ketentuan, pejabat negara yang maju ikut pilpres harus mundur dari jabatannya.

Partai Demokrat juga harus merasakan sia-sianya penyelenggaraan konvensi capres. Tahapan konvensi yang dimulai sejak Agustus 2013, harus diakui merupakan proyek gagal Partai Demokrat. Ke-11 tokoh peserta konvensi gagal melonjakan Partai Demokrat kembali ke urutan pertama pemilu.

Partai berlambang bintang mercy itu harus puas di peringkat empat di bawah PDIP, Golkar, dan Gerindra.

Hasilnya, ketika tidak ada satu pun peserta konvensi yang menonjol popularitasnya, tidak ada yang bersedia membangun poros baru bersama Partai Demokrat. Pemenang konvensi pun tidak bisa maju menjadi capres. Karena itu, sia-sialah debat berkali-kali di berbagai kota oleh peserta konvensi tersebut.

Namun, juru bicara Komite Konvensi Hinca Panjaitan menyatakan, komite tetap akan menyerahkan hasil konvensi ke Majelis Tinggi Partai Demokrat. Menurut rencana, nama pemenang konvensi akan diserahkan kepada majelis tinggi pada 15 Mei.

"Kami hanya memberikan nama. Soal koalisi, kami tidak ikut memikirkan, biar majelis tinggi partai yang memikirkan soal koalisi," ujarnya.

Sementara itu, soal sikap Partai Hanura memang tidak menjadi faktor signifikan dalam koalisi. Ke kubu mana pun, Partai Hanura akan sekadar menjadi pelengkap.

Mereka tidak mungkin memaksakan Wiranto untuk naik menjadi capres, apalagi harus satu paket bersama Hary Tanoesoedibjo. Ketua DPP Partai Hanura, Yuddy Chrisnandi, sudah menyatakan partainya ingin memerintah dan tidak lagi menjadi oposisi. Karena itu, Hanura sedang mempertimbangkan kekuatan kedua kubu.


Sumber : Sinar Harapan