Sektor Migas Jadi Sebab Lesunya Pertumbuhan Pajak

Selasa , 19 November 2019 | 08:00
Sektor Migas Jadi Sebab Lesunya Pertumbuhan Pajak
Sumber Foto : Dok/SH
Suryo Utomo

JAKARTA - Kementerian Keuangan menyampaikan realisasi penerimaan pajak hingga Oktober 2019 baru mencapai Rp 1.173,9 triliun atau 65,7 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 yang sebesar Rp 1.786,4 triliun. 

Direktur Jendral Pajak Suryo Utomo menerangkan, kontribusi Pajak Pertambahan Nilai Dalam Negeri (PPN DN) hingga Oktober kemarin ialah sebesar Rp 234,8 triliun atau 23,1 persen dari total penerimaan pajak. 

Namun angka itu terhitung turun sebesar 2,4 persen jika dibandingkan dengan periode Januari-Oktober 2018 yang mampu tumbuh 8,9 persen. 

Sementara dari sisi Pajak Penghasilan (PPh) Badan, Kemenkeu mencatat perolehan hingga Oktober 2019 mencapai Rp 192,6 triliun atau 18,9 persen dari total penerimaan pajak. Namun jika dibandingkan Januari-Oktober 2018, penerimaan PPh Badan turun 0,7 persen, karena tahun lalu penerimaan PPh Badan melonjak hingga 25,2 persen secara tahunan (YoY). 

Adapun untuk jenis perpajakan ketiga disumbang melalui pajak penghasilan perorangan atau PPh 21, yang pada Januari-Oktober tercatat Rp 121,27 triliun atau tumbuh 11,9 persen dari total penerimaan. 

Akan tetapi, Suryo menyatakan bahwa PPh 21 masih tumbuh 9,8 persen secara tahunan (YoY), atau melambat karena Januari-Oktober 2018 Kemenkeu membukukan kenaikan penerimaan hingga 17 persen (YoY).

Capaian Oktober tahun ini yang belum maksimal, diterangkan Suryo, karena seretnya penerimaan PPh Migas yang terkontraksi minus 9,8 persen. Hal itu sejalan dengan turunnya harga minyak mentah di tingkat global. 

"Secara agregat penerimaan perpajakan khususnya pajak dalam hal ini PPh migas dan non migas, tekanan pada harga minyak sangat berefek dari pengumpulan PPH. Sampai Oktober 2019 bahwa pertumbuhan PPh migas minus 9,3 persen. Jadi kalau dibandingkan tahun sebelumnya 17 persen, jadi mengalami tekanan karena turunnya harga minyak," terang Suryo.

Lebih lanjut, Suryo menerangkan bahwa penerimaan PPh Non Migas justru masih tumbuh positif sebesar 3,3 persen, akan tetapi jika dibanding periode yang sama tahun lalu jelas mengalami kontraksi. 

Sementara PPN impor dan ekspor juga tumbuh, namun secara volume mengalami kontraksi minus 4,2 persen. Selain itu, pertumbuhan lain di PPh final sebesar 6,4 persen disebutkan Suryo masuk kategori positif. (Ryo)

 

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load