Bom Kembali Meledak Dekat Gereja di Sri Lanka

Senin , 22 April 2019 | 19:25
Bom Kembali Meledak Dekat Gereja di Sri Lanka
Sumber Foto Reuters
Sebuah bom dalam mobil meledak dekat gereja di Sri Lanka.
POPULER

KOLOMBO - Sebuah bom dilaporkan kembali meledak di dekat Gereja St. Anthony, Sri Lanka, tempat ibadah yang menjadi salah satu target rangkaian serangan di Hari Paskah, Minggu (21/4/2019).

Saksi mata melaporkan bahwa ledakan terjadi di dalam sebuah mobil yang terparkir di dekat gereja ketika tim gegana Sri Lanka (STF) berupaya menjinakkan bom tersebut pada Senin (22/4/2019) sore waktu setempat."Mobil van meledak ketika tim STF dan angkatan udara mencoba menjinakkan bom," ucap saksi mata tersebut.

Juru bicara aparat keamanan Sri Lanka tidak dapat segera diminta konfirmasi terkait ledakan terbaru ini.

Sementara itu, di hari yang sama, aparat kepolisian juga menemukan 87 alat peledak di stasiun bus swasta Bastian Mawatha, Kolombo.

Insiden terbaru ini terjadi sehari setelah serangan bom menerjang delapan lokasi terpisah di Kolombo dan dua kota lainnya pada Minggu (21/4/2019).

Empat bom pertama meledak sekitar pukul 08.45 waktu lokal di empat lokasi berbeda, yakni Hotel Shangri-La di pusat Kota Kolombo, Hotel Kingsbury, Gereja St Anthony di Kochchikade, dan Gereja Katolik St. Sebastian di Negombo.

Serangan paling mematikan dikabarkan terjadi di Gereja St Sebastian di Negombo. Sejumlah gambar yang tersebar di media sosial menunjukkan selain berserakan puing-puing bangunan, lantai gereja juga berlumuran darah.

Ledakan di Gereja St Anthony terjadi ketika misa Paskah berlangsung. Berselang lima menit, bom lainnya menerjang Hotel The Cinnamon Grand. Sekitar pukul 09.05, ledakan keenam terjadi di Gereja Katolik Zion Roman di Batticaloa.

Ledakan ketujuh terjadi di New Tropical Inn sekitar pukul 13.45 waktu lokal. Penginapan itu berdekatan dengan kebun binatang nasional Sri Lanka. Ledakan terakhir menerjang sebuah rumah di Dematagoda, Kolombo, saat razia polisi berlangsung. Tiga aparat keamanan dilaporkan tewas dalam ledakan itu.

Sejauh ini, kepolisian Sri Lanka telah menahan 24 orang diduga terlibat serangan bom beruntun kemarin. Puluhan tersangka itu disebut berasal dari kelompok radikal yang sama.

Meski belum ada kelompok yang mengklaim, pemerintah Sri Lanka meyakini serangan paling mematikan selama satu dekade terakhir itu dilakukan oleh kelompok ekstremis Islam lokal, National Thowheeth Jama'ath (NTJ). Kantor kepresidenan Sri Lanka berencana menetapkan status darurat nasional mulai Senin tengah malam nanti waktu lokal.



Sumber Berita: Reuters
KOMENTAR

End of content

No more pages to load