Demokrat dan PDIP Tak Miliki "Buzzer" Politik di Medsos

Jumat , 12 Oktober 2018 | 18:35
Demokrat dan PDIP Tak Miliki
Sumber Foto satryo yudhantoko
Diskusi tentang "Buzzer Politik" Menjelang Pilpres 2019 di Jakarta.

JAKARTA - "Buzzer" atau pengguna Twitter yang memiliki pengikut (followers) hingga 2000 orang sering dijadikan alat kampanye di tahun Politik seperti sekarang ini. Bahkan, tidak sedikit metode kampanye yang digunakan ialah kampanye hitam seperti hoax dan atau fitnah. Mengenai hal itu, PDI Perjuangan dan Partai Demokrat mengakui tidak memiliki "Buzzer" Politik.

Politisi PDI Perjuangan, Budiman Sudjatmiko mengakui bahwa partainya tidak memiliki "buzzer" politik. "Saya tidak punya satu buzzer pun, termasuk PDIP. Kita hanya punya in house. Seperti Putra Nababan, itu 'kan dia lama di media. Paham betul tentang media. Jadi kita nggak perlu eksternal house," katanya dalam diskusi publik Lingkar Studi Politik Indonesia (LSPI) di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (12/10/2018).

Selain itu, ia juga mengatkan kalau tensi pengguna media sosial (medsos) sudah meninggi dalam arti negatif. Karena itu, "buzzer" harus menempatkan pesan dengan baik. "Bahwa setiap tools yang baru selalu membuat ekspresi kemarahan orang semakin banyak, dalam bentuk gambar suara jadi semakin banyak. Buzzer yang cerdas itu yang bisa menempatkan sesuatu dengan sebagaimana mestinya," kata Budiman.

Adapun, Ketua Bidang Advokasi dan Hukum Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean mengakui, bahwa pihaknya tidak memiliki "buzzer". "Kita tidak punya konsultan khusus, semua bermain sendiri-sendiri saja. Tapi kader yang kita rekrut memang kita latih komunikasi politiknya. Jadi kita tidak pernah menyewa konsultan politik," ujarnya.

Kendati tidak memiliki "buzzer", Demokrat memiliki cara untuk mengkampanyekan partainya lewat aktivitas media sosial kadernya. "Memang sesekali mereka menyerang. Tapi mereka punya identitas foto yang sebenarnya. Memang kami bentuk itu, supaya mereka bisa berinteraksi dengan masyarakat, di media sosial," dia mengungkapkan.

Namun, menurut peneliti SMRC Saidiman Ahmad, "buzzer" menjadi modal bagi partai politik untuk melakukan kampanye. Karena budaya dasar masyarakat Indonesia menyukai diskusi. "Jadi saya ingin mengatakan bahwa Indonesia punya basis untuk memunculkan perbincangan di medsos soal politik, karena sehari-harinya begitu," dia menambahkan.(ryo)

 

KOMENTAR