Sidang Eks Ketua Kadin Bali, Nama Anak Mantan Gubernur Disebut

Senin , 17 Juni 2019 | 18:46
Sidang Eks Ketua Kadin Bali, Nama Anak Mantan Gubernur Disebut
Sumber Foto Detik.com
Mantan Ketua Kadin Bali AA Ngurah Alit Wiraputra.

DENPASAR - Nama anak eks Gubernur Made Mangku Pastika, Putu Pasek Sandoz Prawirottama disebut dalam sidang eks ketua Kadin Bali AA Ngurah Alit Wiraputra. Sandos disebut mengikuti pertemuan dan juga menerima duit dari Alit.

"Pada tanggal 23 November 2011 bertempat di kantor HIPMI Bali di Sanur Made Jayantara mempertemukan Candra Wijaya dengan terdakwa Alit dan Putu Pasek Sandoz Prawirottama untuk membagi peran dari I Made Jayantara, Candra Wijaya, AA Ngurah Alit Wiraputra, dan Putu Pasek Sandoz Prawirottama dalam pengurusan perizinan proyek pengembangan kawasan pelabuhan Benoa," kata jaksa I Gde Raka Arimbawa saat membacakan surat dakwaan di PN Denpasar, Jalan PB Sudirman, Denpasar, Bali, Senin (17/6/2019).

Saat itu Alit dikenalkan ke Candra Wijaya yang merupakan rekan dari Sutrisno Lukito Disastro sebagai pihak yang ingin berinvestasi di pengembangan Pelabuhan Benoa. Alit yang menjabat sebagai wakil ketua Kadin Bali saat itu langsung menyanggupi proses pengurusan izin untuk Sutrisno Lukita Disastro.

"Dalam pertemuan tersebut terdakwa Alit mengiyakan bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk mengurusi perizinan proyek pengembangan kawasan pelabuhan Benoa karena dekat dengan tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, dan DPRD serta Pemda Provinsi Bali serta dekat dengan Gubernur Bali dan mengaku sebagai anak angkat Gubernur Bali sehingga bisa mengurusi proses perizinan proyek pengembangan kawasan pelabuhan Benoa," kata Arimbawa.

"Dalam pertemuan tersebut dibahas rencana persiapan pengurusan izin proyek pengembangan kawasan Pelabuhan Benoa dan juga membahas draft surat kesepakatan saling pengertian tentang kerja sama pengurusan izin proyek pengembangan kawasan pelabuhan Benoa dan kemudian hasil yang dicapai dalam pertemuan adalah disepakati terdakwa sebagai orang yang mengurusi proses perizinan proyek pengembangan kawasan pelabuhan Benoa," dia menambahkan.

Dalam prosesnya, Lukito Sutrisno Disastro menyetorkan duit Rp 16,1 miliar ke terdakwa sebagai uang operasional. Namun, terdakwa tidak bisa memenuhi kewajibannya untuk menerbitkan surat rekomendasi gubernur Bali kepada PT Bangun Segitiga Mas sesuai kesepakatan.

"Namun terdakwa Alit tidak pernah menindaklanjuti pengurusan surat rekomendasi tersebut, dan surat rekomendasi pengembangan kawasan pelabuhan Benoa tidak pernah diterbitkan oleh gubernur Bali kepada PT Bangun Segitiga Mas sudah lewat 6 bulan dari yang dijanjikan bahkan sampai sekarang sudah lewat 7 tahun sebagaimana yang dijanjikan oleh terdakwa Alit," tuturnya seperti dikutip detik.com.

Dalam surat dakwaan itu disebutkan duit Rp 16,1 miliar itu dibagi-bagikan kepada Candra, Sandoz dan Made Jayantara, masing-masing dengan jumlah yang berbeda. Sehingga Lukito Sutrisno Disastro mengalami kerugian Rp 16,1 miliar.

"Dan uang yang diberiksan saksi Sutrisno Lukito Disastro sebesar Rp 16,1 miliar kpeda terdakwa ternyata tidak dipergunakan untuk melakukan pengurusan izin-izin dan rekomendasi gubernur untuk pengembangan dan pembangunan pelabuhan Benoa tetapi oleh terdakwa digunakan untuk kepentingan pribadinya sebesar Rp 1 miliar dan dibagi-bagikan kepada Putu Pasek Sandoz Prawirottama sebesar Rp 7,5 miliar dan USD 80 ribu; Candra Wijaya sebesar Rp 4,6 miliar; I Made Jayantara sebesar Rp 1,1 miliar, " ujar Arimbawa.

"Bahwa terdakwa Alit tidak bisa mengurus surat rekomendasi tersebut, sehingga Sutrisno Lukito Disastro meminta kepada Alit agar dana tersebut dikembalikan namun Anak Agung Ngurah Alit Wiraputra tidak mau mengembalikan yang mengakibatkan saksi Lukito Disastro mengalami kerugian Rp 16,1 miliar," tuturnya.

Atas perbuatannya Alit dijerat dengan pasal 378 KUHP atau pasal 372 KUHP.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load