Semester I 2019 PLN Bukukan Laba Rp 7,35 Triliun

Senin , 23 September 2019 | 14:36
Semester I 2019 PLN Bukukan Laba Rp 7,35 Triliun
Sumber Foto : Istimewa
PLN

JAKARTA - PT PLN (Persero) berhasil membukukan profit sebesar Rp 7,35 triliun sepanjang Januari-Juni 2019. Jumlah tersebut meningkat pesat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencatatkan rugi bersih sebesar Rp5,35 triliun.

Direktur Keuangan PLN, Sarwono Sudarto mengungkapkan, Capaian ini didukung oleh peningkatan nilai penjualan tenaga listrik PLN sebesar Rp 6,29 triliun atau 4,95% sehingga menjadi Rp 133,45 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 127,16 triliun.

Dia menjelaskan, pertumbuhan penjualan ini berasal dari kenaikan volume penjualan menjadi sebesar 118,52 Terra Watt hour (TWh) atau naik 4,41% dibanding dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 113,52 TWh.

"Peningkatan konsumsi kWh juga didukung dari adanya kenaikan jumlah pelanggan dimana sampai dengan akhir Juni 2019 telah mencapai 73,62 juta atau bertambah 3,92 juta pelanggan dari akhir Juni 2018 sebesar 69,7 juta pelanggan," ujar Sarwono dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Senin (23/9/2019).

Menurut Sarwono, bertambahnya jumlah pelanggan ini juga mendorong kenaikan rasio elektrifikasi nasional yaitu dari 98,3% pada akhir tahun 2018 menjadi 98,81% pada 30 Juni 2019.

"Seiring dengan meningkatnya penjualan maka volume produksi listrik juga naik yang menuntut kenaikan biaya usaha PLN dimana sampai dengan Juni 2019 naik sebesar Rp10,08 triliun atau 7,08% menjadi Rp 152,51 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 142,43 triliun," paparnya.

Dia menambahkan komponen biaya usaha dengan kenaikan terbesar adalah beban pembelian dari listrik swasta yang mengalami kenaikan sebesar Rp 3,62 triliun dari Rp 37,8 triliun sampai dengan Juni 2018 menjadi Rp 41,4 triliun sampai dengan Juni 2019, seiring dengan masuknya beberapa IPP baru untuk menyuplai daya ke PLN.

Biaya bahan bakar pun masih mendominasi kontribusi biaya usaha yaitu 43% dari total biaya usaha, di mana biaya gas merupakan biaya bahan bakar terbesar meskipun output listriknya hanya berkontribusi 22%.

"PLN tetap mengoptimalkan pembangkit berbahan bakar batubara untuk mendongkrak efisiensi sejalan dengan dukungan pemerintah terkait harga maksimal batubara untuk sektor kelistrikan. Kontribusi produksi listrik dari pembangkit batubara sebesar 61% dari total produksi listrik nasional," pungkasnya. (E-3)

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load