Kenaikan Cukai Rokok Bisa Picu Inflasi

Senin , 16 September 2019 | 17:37
Kenaikan Cukai Rokok Bisa Picu Inflasi
Sumber Foto : Istimewa
Ilustrasi cukai rokok

JAKARTA - Pemerintah telah menetapkan kenaikan tarif cukai rokok sebesar 23 persen. Kenaikan itu diperkirakan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto bakal memicu laju inflasi tahun depan.

Pasalnya, selama ini saja setiap bulannya ada kenaikan harga rokok yang berkontribusi terhadap inflasi secara keseluruhan, meski jumlahnya relatif kecil.

"Kalau kita lihat setiap bulan kan ada kenaikan (inflasi), tapi tipis ya kontribusinya. Kita kan melihat sumbangan 0,01 persen (misalnya) dari rokok kretek filter. Ada (dampak terhadap inflasi), tapi mudah-mudahan enggak besar," paparnya saat ditemui di Kantor BPS, Jalan Dr Sutomo, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Senin (16/9/2019).

Ia menjelaskan,  harga rokok sendiri sebenarnya tidak masuk ke dalam perhitungan inflasi inti, namun masuk ke perhitungan administered price atau harga-harga yang diatur oleh pemerintah. "Kalau rokok kan ada penetapan dari harga yang ditetapkan pemerintah. Sebenarnya setiap tahun dan setiap bulan ada kontribusinya," tambahnya.

Namun saat ini BPS belum bisa memperkirakan dampak menyeluruh dari kenaikan cukai rokok tersebut terhadap inflasi nasional. "Saya belum tahu dampaknya seberapa jauh. Kita harus melakukan exercice dulu. Mudah-mudahan tidak terlalu besar," dia menerangkan.

Suhariyanto hanya menjelaskan, pihaknya mencatat nilai impor tembakau cukup tinggi. Pada bulan Agustus 2019 ini saja volumenya sudah mencapai 9.109 ton atau setara dengan US$ 55,7 juta.

Sementara dalam catatan BPS mulai Januari hingga Agustus 2019, total impor tembakau sudah senilai US$ 372 juta. 

Adapun kenaikan tarif cukai rokok ini disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pekan kemarin di kantornya. Ia menyatakan bahwa pemerintah sepakat untuk menaikkan tarif cukai rokok sebesar 23% dan harga jual eceran sebesar 35%. 

Rencananya kenaikan cukai rokok itu akan diberlakukan per 1 Januari 2020. Dari penaikan itu, pemerintah memproyeksi penerimaan cukai tahun depan bisa mencapai Rp 173 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020.

Adapun keputusan penaikan tarif cukai rokok juga memiliki tujuan untuk mengurangi konsumsi dan peredaran rokok ilegal, mengatur industri, serta menambah penerimaan negara.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga memastikan bahwa rencana kenaikan cukai rokok itu sudah disampaikan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). (ryo)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load