Cara Habibie Membaca Realitas Ekonomi dengan Ilmu Pesawat

Senin , 16 September 2019 | 10:00
Cara Habibie Membaca Realitas Ekonomi dengan Ilmu Pesawat
Sumber Foto: Istimewa
BJ Habibie dan Salah Satu Karya Pesawatnya.

JAKARTA - Belum lama sepertinya Prof. Dr. Ing. H. Alm. Bacharruddin Jusuf Habibie memimpin Indonesia pasca krisis moneter 1998. Sosoknya sebagai Presiden RI ke-3 meninggalkan banyak warisan bagi bangsa dan negara Indonesia ini, terutama di sektor ekonomi.

Bagaimana tidak? Krisis moneter 1998 menuntut ekonomi Indonesia terjun bebas. Pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 13% sementara 70% konsumsi masyarakat se-Indonesia mesti dipenuhi saat itu. Belum lagi melihat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terdepresiasi hingga Rp 15.000 dan terus meningkat.

Pada saat itulah Pria yang lahir di Parepare, Sulawesi Selatan 83 tahun silam tersebut membaca betul keadaan ekonomi Indonesia yang inflasi mencapai 60 persen.

Dari kacamatanya, ia melihat Indonesia bak pesawat terbang jatuh secara vertikal ke bawah atau stall, tapi untungnya tidak crash alias hancur lebur. Lantas pikirannya hanya satu, bagaimana membalikan keadaan agar pesawat yang besar ini (Indonesia) bisa terbang kembali di kancah internasional.

Anggota Dewan Pakar the Habibie Center bidang ekonomi yang juga tim ahli Habibie sewaktu masih menjabat Presiden, Umar Juoro, menjelaskan sejumlah langkah Habibie menstabilkan ekonomi Indonesia usai dirinya diangkat MPR menggantikan kepemimpinan Presiden RI ke-2 Soeharto pada 21 Mei 1998.

"Itu kan harus ada tindakan yang tepat dan benar. Pertama menstabilkan inflasi sama nilai rupiah ini, baru bisa me-recovery atau memulihkan ekonomi lagi," terang Umar saat dihubungi sinarharapan.co, di Jakarta, pekan kemarin.

Pendiri Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) itu, terang Umar, membaca realitas ekonomi tidak dengan teori ekonomi, tapi menggunakan dasar ilmu engineer pesawat yang dimilikinya. "Jadi yang dilihat pertama adalah realitas ekonomi, jadi enggak melihat dari teori, ideologi atau aliran pemikiran," ucapnya.

Lantas apa yang dilakukan suami dari almarhumah Hasri Ainun Besari itu? Hal pertama yang dilakukannya, kata Umar ialah memperbaiki semua alat pengendali sistem ekonomi seperti moneter, fiskal dan sektoral. "Itu tidak bisa jalan. Jadi itu harus diupayakan pesawat itu untuk tidak stall. Dan kalau terus stall dia kan crash, jatuh hancur," kata Umar.

"Jadi pada waktu itu untuk mengatasi inflasi yang tinggi dia langsung minta pak Rahardi Remelan, Menteri Perdagangan, Ketua Bulog, untuk melakukan langkah-langkah yang diperlukan supaya stabil. Karena distribusi rusak waktu itu, bahkan truk-truk Angkatan Darat dipakai untuk mendistribusi bahan pangan, karena kan pedagang-pedagang pada lari semua," katanya.

"Nah itu distabilkan dulu. Dan itu akhirnya bisa stabil harga-harga itu. Dari inflasi 58 persen, 60 persen menjadi hanya sekitar 2 persen kan," sambung Umar.

Lalu untuk mengatasi masalah rupiah, Ketua Ikatan Cedekiawan Muslim Indonesia (ICMI) itu berusaha mengembalikan kredibiltas Bank Indonesia (BI) dengan membuatnya independen. Seperti sejumlah bank sentral di beberapa negara yang telah menerapkannya saat itu seperti Jerman dan Selandia Baru.

"Dulukan (BI) disalahgunakan. Nah itu dijadikan independen. Jadi dia tidak lagi dibawah Dewan Moneter. Dewan Moneter itu kan antaranya Menteri Keuangan yang paling berkuasa," papar Umar.

Selain itu, pencipta pesawat N-250 itu juga melakukan latter of intens dengan International Monetary Fund (IMF) untuk implementasi reformasi ekonomi, dan sekaligus membentuk lembaga yang bertugas memantau serta menyelesaikan utang luar negeri.

"Nah pada saat itu pak Habibie menyadari betul, kalau tidak menjalankan latter of intens IMF maka kredibilitas tidak didapatkan. Jadi walaupun Pak Habibie bukan seorang ekonom yang banyak berhubungan dengan IMF tapi dia tahu bahwa IMF bisa memberikan kredibilitas meskipun ngasih pil pahit yang harus ditelan," aku Umar.

"Nah karena ada kredibilitas, ada bantuan dana jangka pendek, maka lembaga keuangan kan, paling engggak Bank Sentral bisa mendapat kepercayaan lagi. Itu kan rupiah stabil dari Rp 15 ribu sampai Rp 6.700 hanya dalam waktu 3 bulan," Umar melanjutkan.

Langkah selanjutnya yang dilakukan Habibie yakni ikut menyehatkan sejumlah bank yang berpotensi bangkrut akibat terbelit utang dan likuiditas yang ketat. Peranannya terlihat saat pembentukan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

Untuk mendukung seluruh kebijakannya, Habibie pun mengesahkan UU No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan yang Tidak Sehat dan UU No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. "Saya kira kalau itu bukan pak Habibie krisis itu bisa berkepanjangan. Dan itu adalah kebijakan strategis berani dan dijalankan gitu," tutup Umar.

Sekadar informasi, pria yang akrab disapa Eyang Habibie itu wafat pada Rabu, 11 September 2019 lalu. Mantan Wakil Presiden di era Soeharto tersebut meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto sekitar pukul 18.05 WIB. Tepat pada 25 Juni 2019 lalu umur Habibie genap 83 tahun.

"Andaikata saya sampai waktunya dipanggil, saya masuk ke dalam dimensi dalam keadaan... Ainun. Ya, saya tahu yang akan menemui saya pertama kali bukan ibu saya saja dan keluarga, tapi Ainun juga," kata Habibie dalam tayangan "Mata Najwa" di Metro TV pada Juni 2016.

Banyak tokoh merasa kehilangan sosok yang sering disebut sebagai Bapak Bangsa ini. Namun kini dia sudah bersama kekasih sejatinya Hasri Ainun Besari. Selamat jalan Eyang. (Satryo Yudhantoko)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load