Gubernur BI: Rupiah Masih Dibayangi Tekanan Ekonomi Global

Kamis , 01 November 2018 | 16:24
Gubernur BI: Rupiah Masih Dibayangi Tekanan Ekonomi Global
Sumber Foto: Dok/Ist
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengakui nilai tukar rupiah memang masih dibayangi tekanan ekonomi global, sehingga sudah terdepresiasi sebesar 10 persen (year to date).

BI sendiri terus melakukan beberapa upaya untuk menjaga stabilitas perekonomian di sektor moneter yakni dengan menerapkan kebijakan "Domestic Non-Deliverable Forward/DNDF" atau pasar mata uang berjangka domestik untuk mengurangi tekanan nilai tukar rupiah dan mempebanyak fasilitas lindung nilai mata uang.

"Kami fokus bagaimana untuk melakukan langkah stabilitas dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," kata Perry usai menghadiri rapat bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), di Jakarta, Kamis (1/11).

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang juga menjabat sebagai Ketua KSSK melaporkan dinamika perekonomian masih cukup tinggi hingga kuartal III 2018, namun tetap terkendali karena indikator fundamen ekonomi domestik cukup terjaga.

"Periode kuartal III 2018, stabilitas sistem keuangan relatif terjaga atau aman. KSSK memandang dinamika perekonomian masih cukup tinggi. Dinamika fundamental perekonomian pada kondisi terkendali," kata Sri Mulyani.

Ia mengatakan KSSK tetap mencermati potensi-potensi risiko bagi ekonomi domestik, yakni dari melebarnya defisit transaksi berjalan, tekanan nilai rupiah, dan juga ketergantungan pada komoditas ekspor tertentu.

Pemerintah dan Bank Indonesia ingin menjaga defisit transaksi berjalan di bawah tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun ini.

Indikator fundamental yang menopang stabiltas sistem keuangan, kata Sri, yaitu pertumbuhan ekonomi yang masih terjaga di atas lima persen, inflasi rendah pada level yang sehat, kondisi cadangan devisa memadai dan volatilitas rupiah terjaga.

"Defisit APBN mengecil, bahkan keseimbangan primer lebih baik dari periode-periode sebelumnya," kata Sri Mulyani.

Di tempat yang sama, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana menjelaskan salah satu masalah yang mencuat dalam rapat KSSK adalah tantangan pengetatan likudiitas perbankan. Rasio kredit terhadap simpanan (Loan to Deposit Ratio/LDR) perbankan sudah 93 persen. Angka itu jika dicermati, melebih batas maksimum ketentuan kehati-hatian LDR yang ditetapkan Bank Indonesia yakni di 78-92 persen.

"Kami lihat kondisi likudiitas yang mengetat, namun 'buffer' (cadangan) terjaga. Namun, dengan koordinasi dengan BI, kami yakin momentum ekonomi ini masih terjaga," ujar Heru. (RM)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load